14. Harus Bagaimana?
Suara tawa terdengar riuh dari arah rumah Ina Baiq. Anak- anak perempuan nampak ceria membawakan tarian adat untuk menyambut tamu, yaitu tari Gandrung. Ina Baiq dan Manda bernyanyi lagu tradisional Sasak— Gugur Mayang, untuk mengiringi tari tersebut.
Sementara Nadine tersenyum bertepuk tangan menikmati pertunjukan mereka.
Suara parau Ina Baiq yang berpadu dengan suara nyaring Manda— suara orang tua dan anak- anak membaur harmonis membawakan lagu itu.
Nadine, tentu saja tak mengerti sama sekali apa arti liriknya. Namun ia bisa menangkap nuansa syahdu, yang entah kenapa sangat mengena di hatinya. Ada nuansa sedih, sekaligus juga menenangkan di sana.
Nadine —yang mulai menangkap nadanya— ikut bersenandung.
Lalu beberapa gadis berhenti menari. Ina Baiq dan Manda juga berhenti. Mereka semua menoleh ke arah luar teras.
Nadine pun ikut menoleh ke arah yang sama.
Dan lalu menahan nafas.
Raka, berdiri tak jauh dari teras. Dengan cercah matahari menyinarinya dari sela pepohonan.. Memperhatikan mereka semua.
"Iya Raka, ada apa?" tanya Ina Baiq.
"Saya ada perlu dengan tamu saya, Ina," ujar Raka menggaruk belakang kepalanya. "Boleh saya bicara sama dia? Berdua?"
Nadine menatap wajah Ina Baiq dengan tatapan memohon, agar Ina menjawab 'tidak boleh'. Namun justru Ina Baiq mengangguk, tersenyum lembut padanya.
"Temui dia, Nak."
"Iya Kak," ujar Manda mengangkat tangannya sendiri yang juga memakai gelang Subahnale seperti yang ia pakaikan ke pergelangan Nadine— seolah mengingatkan Nadine tentang filosofi motif itu agar tidak mudah menyerah.
Namun senyum simpul di wajah Manda seolah berkata lain. Senyum menyebalkan yang seolah menggoda 'ciyee ciyee' kepada gadis itu.
"Ina—" Nadine memegangi tangan Ina Baiq. "Aku mau di sini."
Ina Baiq menggeleng. "Tak apa. Temui Raka."
"..."
"Selesaikan urusanmu di sini," ujarnya parau. Seolah- olah ia sudah mengerti apa yang sedang menjadi permasalahan Nadine.
Nadine menghela nafas, lalu beranjak keluar dari teras rumah Ina Baiq.
Raka terdiam, menahan nafas saat memperhatikan Nadine menuruni tangga.
Nadine yang mengenakan kaos simple, dengan jarik mengikat di pinggangnya. Gelungan rambut hasil karya Manda dengan sedikit hiasan bunga. Dan gelang Subahnale— motif khas Sasak.
Membuat penampilan Nadine terlihat jauh dari label 'model', namun justru memancarkan kecantikan alaminya.
Kecantikan perempuan tradisional.
Yang sederhana.
Yang begitu indah.
Raka menelan ludah.
-----
Ombak yang tenang mengalun membuat suara debur saat mencapai pantai. Angin lembut bertiup, memberikan rasa sejuk— di bawah siraman matahari yang hangat. Nadine dan Raka berjalan berdua di pantai depan villa tamu, membuat sebuah jejak panjang di pasir.
"Mau bicara apa?" Nadine berjalan di depan, menyibaki poni yang sedikit berkibar.
"Saya—" Raka berkata gugup. Entah kenapa nada bicara Nadine terdengar tidak enak.. "Cuma mau mengingatkan bahwa besok kita akan berangkat dari sini jam delapan pagi."
"Itu saja?" tanya Nadine lagi.
"Saya juga.." Raka sedikit ragu. "Sejak kemarin Mbak Nadine mengacuhkan saya. Jujur saya tidak tahu alasannya. Tapi kalau memang itu karena saya, saya minta maaf."
Nadine berbalik, menoleh menarap Raka. "Sebenarnya, maksud kamu apa sih?"
Raka tak menjawab. Ia menunggu Nadine menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu tak seharusnya bilang aku cantik," Nadine menunjuk luka panjang di wajah kanannya. "Tidak, dengan luka seperti ini."
"Tapi," Raka diam di tempat, membuat jarak di antara mereka. "Mbak Nadine memang cantik. Beneran."
"Nggak," Nadine menggeleng, melipat lengannya. "Kamu berkata seperti itu karena kamu baik, dan kamu merasa kasihan denganku kan?"
"Saya nggak ada maksud kasihan sama kamu Mbak," Raka tak mendekat.
"Lalu apa maksudnya? Di Amirta itu— kamu sentuh rambutku. Berkata bahwa aku manis, aku cantik," suara Nadine terdengar mulai gemetaran.
"..."
"Saya," Raka melangkah pelan mendekat. "Saya bingung."
Kali ini Nadine yang terdiam.
Raka menarik nafas dalam, seperti hendak mengungkap sesuatu.
"Sejak Mbak Nadine datang ke Segare, Mbak Nadine kelihatan muram. Selalu berusaha nutupin luka di wajah dengan poni. Mbak Nadine kayak nggak hidup, hilang arah."
"..."
"Terus waktu malam begibung itu, Mbak Nadine sempat ketawa," Raka menatap wajah Nadine lekat, dengan langit merah di belakangnya. "Satu tawa kecil. Dan— selesai."
"Selesai?" Nadine menyipit.
"Satu tawa itu bikin saya nggak bisa bedain batas antara profesional dan niat personal. Antara saya bersikap baik sebagai tour guide, atau karena memang niat saya—" Raka terdiam sejenak membuat jeda.
"—yang ingin membuat Mbak Nadine tersenyum."
"Kamu ingin buat aku tersenyum?" Nadine meninggi. "Emang apa urusanmu?"
"Itu yang saya juga bingung," Raka menekankan. "Saya juga nggak ngerti kenapa. Tapi saya senang ngelihat Mbak Nadine ketawa lepas seperti saat di Amirta. Seperti saat di Nirvana."
"..."
"Cuma saya nggak nyangka kalau Mbak Nadine sampai—" Raka tak.melanjutkan kalimatnya. Ia cukup sadar bahwa ciuman singkat itu lah yang menjadi masalah.
"Selamat," ujar Nadine. Angin pantai berembus sedikit kencang, membawa tetes kecil dari sudut matanya. "Kamu berhasil."
Berlatar awan kemerahan dan hangat matahari, Nadine pun menceritakan semuanya. Tentang Barrack, tentang kecelakaan mobil, tentang bekas luka itu dan tentang semuanya. Nadine menumpahkan semuanya— toh besok ia sudah tak di sini.
Raka yang mendengarnya pun juga sedikit paham tentang bagaimana dalamnya luka yang di alami Nadine. Selain kehilangan orang yang dicintainya, ia juga kehilangan pekerjaan.
Nadine yang seorang model, yang terbiasa untuk selalu tampil sempurna di atas catwalk. Yang selalu mendapat pujian tentang kecantikannya. Yang selalu mendapat segala perhatian— kamera dan penonton.
Nadine terbiasa mendapatkan validasi dari luar untuknya merasa bahwa ia cantik.
Sehingga kecelakaan itu menoreh luka di wajahnya, Nadine pun benar- benar hancur.
Ia tak lagi merasa sempurna.
"Sekarang tolong kasih tahu aku," mata Nadine membasah. "Aku harus bagaimana? Dengan semua ini"
"Dengan— perasaanku ke kamu?"
Sementara Nadine tersenyum bertepuk tangan menikmati pertunjukan mereka.
Suara parau Ina Baiq yang berpadu dengan suara nyaring Manda— suara orang tua dan anak- anak membaur harmonis membawakan lagu itu.
Nadine, tentu saja tak mengerti sama sekali apa arti liriknya. Namun ia bisa menangkap nuansa syahdu, yang entah kenapa sangat mengena di hatinya. Ada nuansa sedih, sekaligus juga menenangkan di sana.
Nadine —yang mulai menangkap nadanya— ikut bersenandung.
Lalu beberapa gadis berhenti menari. Ina Baiq dan Manda juga berhenti. Mereka semua menoleh ke arah luar teras.
Nadine pun ikut menoleh ke arah yang sama.
Dan lalu menahan nafas.
Raka, berdiri tak jauh dari teras. Dengan cercah matahari menyinarinya dari sela pepohonan.. Memperhatikan mereka semua.
"Iya Raka, ada apa?" tanya Ina Baiq.
"Saya ada perlu dengan tamu saya, Ina," ujar Raka menggaruk belakang kepalanya. "Boleh saya bicara sama dia? Berdua?"
Nadine menatap wajah Ina Baiq dengan tatapan memohon, agar Ina menjawab 'tidak boleh'. Namun justru Ina Baiq mengangguk, tersenyum lembut padanya.
"Temui dia, Nak."
"Iya Kak," ujar Manda mengangkat tangannya sendiri yang juga memakai gelang Subahnale seperti yang ia pakaikan ke pergelangan Nadine— seolah mengingatkan Nadine tentang filosofi motif itu agar tidak mudah menyerah.
Namun senyum simpul di wajah Manda seolah berkata lain. Senyum menyebalkan yang seolah menggoda 'ciyee ciyee' kepada gadis itu.
"Ina—" Nadine memegangi tangan Ina Baiq. "Aku mau di sini."
Ina Baiq menggeleng. "Tak apa. Temui Raka."
"..."
"Selesaikan urusanmu di sini," ujarnya parau. Seolah- olah ia sudah mengerti apa yang sedang menjadi permasalahan Nadine.
Nadine menghela nafas, lalu beranjak keluar dari teras rumah Ina Baiq.
Raka terdiam, menahan nafas saat memperhatikan Nadine menuruni tangga.
Nadine yang mengenakan kaos simple, dengan jarik mengikat di pinggangnya. Gelungan rambut hasil karya Manda dengan sedikit hiasan bunga. Dan gelang Subahnale— motif khas Sasak.
Membuat penampilan Nadine terlihat jauh dari label 'model', namun justru memancarkan kecantikan alaminya.
Kecantikan perempuan tradisional.
Yang sederhana.
Yang begitu indah.
Raka menelan ludah.
-----
Ombak yang tenang mengalun membuat suara debur saat mencapai pantai. Angin lembut bertiup, memberikan rasa sejuk— di bawah siraman matahari yang hangat. Nadine dan Raka berjalan berdua di pantai depan villa tamu, membuat sebuah jejak panjang di pasir.
"Mau bicara apa?" Nadine berjalan di depan, menyibaki poni yang sedikit berkibar.
"Saya—" Raka berkata gugup. Entah kenapa nada bicara Nadine terdengar tidak enak.. "Cuma mau mengingatkan bahwa besok kita akan berangkat dari sini jam delapan pagi."
"Itu saja?" tanya Nadine lagi.
"Saya juga.." Raka sedikit ragu. "Sejak kemarin Mbak Nadine mengacuhkan saya. Jujur saya tidak tahu alasannya. Tapi kalau memang itu karena saya, saya minta maaf."
Nadine berbalik, menoleh menarap Raka. "Sebenarnya, maksud kamu apa sih?"
Raka tak menjawab. Ia menunggu Nadine menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu tak seharusnya bilang aku cantik," Nadine menunjuk luka panjang di wajah kanannya. "Tidak, dengan luka seperti ini."
"Tapi," Raka diam di tempat, membuat jarak di antara mereka. "Mbak Nadine memang cantik. Beneran."
"Nggak," Nadine menggeleng, melipat lengannya. "Kamu berkata seperti itu karena kamu baik, dan kamu merasa kasihan denganku kan?"
"Saya nggak ada maksud kasihan sama kamu Mbak," Raka tak mendekat.
"Lalu apa maksudnya? Di Amirta itu— kamu sentuh rambutku. Berkata bahwa aku manis, aku cantik," suara Nadine terdengar mulai gemetaran.
"..."
"Saya," Raka melangkah pelan mendekat. "Saya bingung."
Kali ini Nadine yang terdiam.
Raka menarik nafas dalam, seperti hendak mengungkap sesuatu.
"Sejak Mbak Nadine datang ke Segare, Mbak Nadine kelihatan muram. Selalu berusaha nutupin luka di wajah dengan poni. Mbak Nadine kayak nggak hidup, hilang arah."
"..."
"Terus waktu malam begibung itu, Mbak Nadine sempat ketawa," Raka menatap wajah Nadine lekat, dengan langit merah di belakangnya. "Satu tawa kecil. Dan— selesai."
"Selesai?" Nadine menyipit.
"Satu tawa itu bikin saya nggak bisa bedain batas antara profesional dan niat personal. Antara saya bersikap baik sebagai tour guide, atau karena memang niat saya—" Raka terdiam sejenak membuat jeda.
"—yang ingin membuat Mbak Nadine tersenyum."
"Kamu ingin buat aku tersenyum?" Nadine meninggi. "Emang apa urusanmu?"
"Itu yang saya juga bingung," Raka menekankan. "Saya juga nggak ngerti kenapa. Tapi saya senang ngelihat Mbak Nadine ketawa lepas seperti saat di Amirta. Seperti saat di Nirvana."
"..."
"Cuma saya nggak nyangka kalau Mbak Nadine sampai—" Raka tak.melanjutkan kalimatnya. Ia cukup sadar bahwa ciuman singkat itu lah yang menjadi masalah.
"Selamat," ujar Nadine. Angin pantai berembus sedikit kencang, membawa tetes kecil dari sudut matanya. "Kamu berhasil."
Berlatar awan kemerahan dan hangat matahari, Nadine pun menceritakan semuanya. Tentang Barrack, tentang kecelakaan mobil, tentang bekas luka itu dan tentang semuanya. Nadine menumpahkan semuanya— toh besok ia sudah tak di sini.
Raka yang mendengarnya pun juga sedikit paham tentang bagaimana dalamnya luka yang di alami Nadine. Selain kehilangan orang yang dicintainya, ia juga kehilangan pekerjaan.
Nadine yang seorang model, yang terbiasa untuk selalu tampil sempurna di atas catwalk. Yang selalu mendapat pujian tentang kecantikannya. Yang selalu mendapat segala perhatian— kamera dan penonton.
Nadine terbiasa mendapatkan validasi dari luar untuknya merasa bahwa ia cantik.
Sehingga kecelakaan itu menoreh luka di wajahnya, Nadine pun benar- benar hancur.
Ia tak lagi merasa sempurna.
"Sekarang tolong kasih tahu aku," mata Nadine membasah. "Aku harus bagaimana? Dengan semua ini"
"Dengan— perasaanku ke kamu?"
Other Stories
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...